Tips Membaca Label Pakaian

Pengetahuan tentang cara merawat pakaian seringkali dianggap sepele. Padahal kalau pakaian kesayangan kita cepat rusak (luntur, mulur, mengkerut, atau pudar warnanya), amat disayangkan kalau itu terjadi karena salah dalam merawat atau memperlakukan pakaian kita tersebut.

Merawat pakaian dengan benar, akan menjadikan pakaian awet sehingga kita akan selalu percaya diri ketika mengenakannya.
Salah satu kunci dalam merawat pakaian adalah mengenali arti simbol perawatan yang terdapat pada labelnya, sehingga kita dapat memperlakukan pakaian dengan benar. Ada 5 simbol dasar dalam merawat pakaian, antara lain:

1. SIMBOL PENCUCIAN (gambar baskom)

Proses mencuci bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang bisa dilakukan dengan tangan atau mesin cuci. Kesalahan dalam proses ini bisa mengakibatkan pakaian menyusut, warnanya pudar atau pakaian menjadi terkoyak. Ada juga jenis kain yang tidak perlu dicuci apabila terdapat simbol mencuci yang disilang. Simbol pencucian dengan gambar tangan berarti pakaian disarankan dicuci secara manual atau dengan tangan. Suhu air pada saat mencuci juga disesuaikan dengan jenis kainnya.

2. SIMBOL PEMAKAIAN PEMUTIH (gambar segitiga)

Untuk menghilangkan noda yang membandel seringkali kita menggunakan pemutih pakaian. Padahal baju-baju berwarna seharusnya tidak dianjurkan untuk menggunakan pemutih. Namun jika label pakaian terdapat simbol segitiga, artinya pakaian tersebut dapat dicuci dengan menggunakan pemutih pakaian. Sedangkan kebalikannya, bila logo segitiga dengan tanda silang artinya pakaian tidak boleh dicuci dengan pemutih.

3. SIMBOL PENYETERIKAAN (gambar setrika)

Menyeterika dengan benar akan menghindarkan pakaian dari memudarnya warna bahan, timbulnya kilap dibagian tertentu yang tidak diinginkan atau bahkan sampai terbakar karena ada beberapa jenis kain yang tidak tahan panas. Tanda titik pada logo seterika menentukan suhu yang diperlukan.

4. SIMBOL PENGERINGAN (gambar kotak)
Simbol perawatan bergambar lingkaran dalam sebuah kotak, artinya ini adalah panduan untuk mengeringkan pakaian. Simbol ini mengingatkan untuk mengeringkan pakaian sesuai petunjuk labelnya, bila ada tanda silang pada logo, artinya pakaian tidak boleh dikeringkan dengan mesin. Ada juga jenis kain yang tidak dianjurkan untuk diperas.

5. SIMBOL DRY CLEAN / CUCI KERING (gambar lingkaran)

Mencuci kering atau dry clean bermanfaat untuk membantu menghilangkan noda yang membandel seperti tanah liat, cat atau bahan kimia yang tumpah dan menempel pada bahan pakaian dengan menggunakan sedikit air atau malah tanpa bantuan air sama sekali. Metode pembersihan ini memang cukup ampuh untuk dilakukan namun sayangnya akan berakibat pada pakaian yang mengkerut atau warnanya pudar.

Pakaian yang dapat dicuci dengan metode dry cleaning tanpa membuatnya mengkerut atau pudar warnanya adalah pakaian dengan gambar lingkaran. Sedangkan yang tidak bisa di-dry clean adalah pakaian dengan logo lingkaran yang dicoret dengan tanda silang. Sedangkan pakaian dengan logo P/F di dalam lingkaran artinya pakaian boleh didry clean namun harus dilakukan oleh professional dengan bahan kimia tertentu.

Lebih jelasnya bisa Bunda baca di link di bawah ini:
http://id.wikipedia.org/wiki/Lambang_pemeliharaan_tekstil

Versi bahasa Inggris:
http://en.wikipedia.org/wiki/Laundry_symbol

Ibu Rumah Tangga Karir Terbesar

Selain Adam dan Hawa, tak seorang pun di dunia ini yang tidak memiliki ibu. Bahkan bayi mungil yang dibuang di pinggir jalan sekalipun, tetaplah memiliki seorang ibu,  bagaimanapun bentuk dan wujudnya.

Tetapi ternyata tidaklah mudah untuk sekadar berterima kasih dan menghargai peran seorang ibu. Sebuah peran suci dan sakral yang kini lebih sering dianggap sebagai peran domestik dan amat tradisional. Karenanya, kini tidak sedikit perempuan, termasuk saya, kerap lebih bangga menyebutkan berbagai profesi, entah sebagai guru, wartawan, sekretaris, pedagang, atau profesi lain dibandingkan menyebut dirinya sebagai ibu rumah tangga (saja).

Suatu hari saya pernah mendaftarkan diri untuk melakukan pemeriksaan USG (ultrasonografi) pada bayi yang saya kandung di sebuah klinik bersalin. Tiba-tiba sang perawat dengan ramah menanyakan, “Apakah ibu bekerja?”

Dengan gagap dan segan saya terpaksa menggeleng. Perawat yang ramah itu pun kemudian menuliskan sesuatu di dalam kartu kontrol berobat milik saya. Belakangan saya baru tahu kalau perawat itu menuliskan “IRT” alias “Ibu Rumah Tangga” dalam kolom pekerjaan saya.

Tiba-tiba saya merasakan ada sepenggal hati saya yang terbang entah ke mana. Ada rasa kesal, sedih, malu, atau apa namanya, saya tidak tahu. Yang jelas saya diam-diam mengeluh mengapa saya tak bisa bangga mengatakan bahwa saya (hanyalah) seorang ibu rumah tangga.

Mencari Makna “Fungsi Perempuan”

Entah kenapa, sejak menjalani babak kehidupan yang baru (sebagai ibu rumah tangga murni), tiba-tiba saya merasa belum pernah menjadi ‘manusia’. Karena, merasa sama sekali belum mempunya nilai dan fungsi sosial bagi kehidupan.

Saya belum mampu memberikan sedikit warna dalam kehidupan meskipun dalam bentuk yang remeh-remeh sekalipun. Bukankah seberapa besar manusia mampu menjadi ‘manusia’ tergantung dari seberapa besar dia memberikan manfaat pada orang lain dan lingkungan sekitarnya? Dan kini, bagaimana saya bisa merasa menjadi ‘manusia’? Bagaimana bisa memiliki fungsi sosial jika saat ini kehidupan saya berputar tak lebih dari urusan kerumahtanggaan dan melayani suami?

Tidak pernah lagi saya rasakan kenikmatan memberikan sedikit pengetahuan saya dalam berbagai pelatihan rekan-rekan mahasiswa, yang dulu kerap saya lakukan. Juga kepuasan batin yang tiada terkira ketika berhasil mengumpulkan dana dan berbagai bantuan material untuk para korban bencana lewat LSM dan sebuah organisasi kemahasiswaan yang dulu pernah saya geluti. Pun peluh keringat kelegaan setelah berhasil mengejar deadline menyelesaikan tulisan-tulisan untuk tabloid kampus, tempat saya mencurahkan segala ide. Rasanya semua itu sudah begitu lama tidak lagi saya alami. Dan jujur saja, saya kangen dengan semua aktivitas itu.

Dulu, saya membayangkan begitu indah dan sederhana kehidupan menjadi seorang ibu rumah tangga. Mengurus suami dan anak-anak, membereskan berbagai urusan rumah, dan menunggu kepulangan mereka dengan senyum yang menyejukkan.

Kenyataannya ternyata tidaklah semudah itu. Ketika suami berangkat bekerja, maka mulailah saya berusaha menikmati segala bentuk kesendirian dengan tenggelam dalam berbagai rutinitas rumahtangga. Dan tetap saja semua itu terasa menyiksa, karena saya tidak lagi mempunyai teman untuk sekadar bertukar pendapat tentang berbagai hal.

Otak saya terasa begitu tumpul dan bebal karena sama sekali tidak lagi terasah dalam berbagai forum diskusi. Satu-satunya kegiatan untuk mempertahankan kemampuan otak adalah dengan membaca dan menulis.

Wanita Modern dengan Peran Tradisional

Hingga akhirnya saya menemukan tulisan Annie Iwasaki, sosok perempuan yang dengan bangga menentukan sebuah pilihan untuk bekerja sebagai ibu rumahtangga di tanah air suaminya, Jepang. Annie benar-benar berusaha untuk menghayati dan memaknai kariernya itu. Ia kemudian menemukan bahwa justru dengan kembalinya para perempuan modern yang berpendidikan tinggi kepada peran tradisionalnya sebagai ibu rumahtangga murni, maka negara Jepang bisa maju!

Menurutnya hal ini dikarenakan, pertama, bekerjanya perempuan di sektor domestik (rumahtangga) itu berarti mengurangi kemungkinan kelebihan jumlah tenaga kerja di sektor publik. Kedua, perempuan berpendidikan yang bekerja di sektor domestik lebih menjamin terciptanya generasi masa depan Jepang yang berkualitas. Bahkan dalam sebuah artikelnya ia berani memberi judul “Peran Ganda Perempuan Karier Itu Nonsense!”

Sejak membaca tulisan itu, saya mulai belajar untuk berbesar hati menerima kenyataan bahwa kini saya adalah ibu rumah tangga murni. Meskipun menjadi ibu rumah tangga dalam pengertian yang paling klasik: berdiam di rumah, mengerjakan segala rutinitas kerumahtanggaan dengan tangan dan tetes keringat saya sendiri, adalah hal yang sebelumnya sama sekali tak terbayangkan.

Semasa remaja saya biasa menghabiskan waktu dengan berbagai aktivitas di luar rumah. Mulai dari urusan kuliah, mengerjakan koran kampus, rapat di masjid, rapat organisasi kemahasiswaan, dari pagi hingga malam. Maka apakah berlebihan jika saya begitu gamang menjalani profesi ibu rumahtangga (murni) ini? Apakah berlebihan jika saya begitu gelisah karena harus seharian berdiam diri di rumah dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga yang seolah tiada berujung?

Menemukan Permata
  
Waktu terus berjalan. Putri kecil saya menginjak usia dua tahun. Celoteh dan tingkah lakunya telah mengajarkan begitu banyak hal kepada saya untuk terus belajar menjadi ibu yang baik. Bukankah guru terbaik seorang ibu adalah pengalamannya sendiri? Bukankah proses belajar menjadi ibu yang baik adalah proses sepanjang hayat?

Begitu satu tahap perkembangan keluarga telah terlampaui, maka masih terdapat milyaran tahapan pembinaan keluarga yang harus dijalani. Bukan sekadar mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari. Sebab begitu terlahir, bayi itu masih harus dijaga, disuapi, dilimpahi kasih sayang, dididik agar ketika dewasa tidak tersesat jalan, juga masih harus disekolahkan. Setelah anak selesai sekolah apakah tugas ibu selesai?

Tentu saja tidak. Sang ibu akan terus memikirkan dimana si anak bekerja, bagaimana pendamping hidupnya, cukupkah kebutuhan hidupnya, bahagiakah perkawinannya? Dan sederetan pertanyaan lain yang akan terus mengikuti sang ibu dan menuntutnya untuk terus belajar hingga tutup usia. Maka adakah batas proses belajar (menjadi) seorang ibu? Tentu saja batasnya hingga akhir hayat.

Jadi, kegamangan yang saya alami ketika mulai menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga, mungkin itu adalah bagian dari proses belajar menjadi ibu. Kini saya sudah kembali ke kota asal saya. di Malang - Jatim.

Saya kembali bergabung dengan teman-teman untuk mengaji seminggu sekali dan menghadiri pengajian umum tiap Ahad pagi. Saya juga menjalin hubungan baik dengan para tetangga, memberikan kursus bordir untuk menambah penghasilan keluarga, dan terus belajar menjadi istri sekaligus ibu yang baik.

Bayi mungil saya telah tumbuh menjadi malaikat kecil yang setiap saat mampu mengingatkan saya, betapa hidup hanya sekali dan hanya akan bermuara pada kematian. Sebagaimana dulu bayi saya tidak ada, kini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya ada. Maka kelak Allah pun akan menjadikan saya tiada. Tidak ada pilihan lain bagi saya selain berusaha untuk memberikan yang terbaik sebagai bekal pertanggungjawaban kelak di hari pembalasan.

Anda mengalami keresahan ketika harus menjalani profesi ibu rumahtangga murni? Mulai sekarang, sapalah lingkungan sekitar Anda. Bergabunglah dengan kelompok-kelompok pengajian (atau keagamaan lainnya, red) di sekitar tempat tinggal. Interaksi sosial yang baik akan banyak membantu menyegarkan sekaligus menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas rumah yang cenderung monoton.

Atau jika Anda resah karena penghasilan suami begitu minim, mulailah untuk mengembangkan potensi. Apapun itu! Pun bila Anda bingung harus memulai dari mana, sertakanlah Allah dalam setiap usaha. Berdoalah pada-Nya. Allah Maha Kaya, Dia akan membukakan pintu-pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Allah akan membantu sebesar apapun masalah dan kesulitan kita. Tetapi semua itu hanya mungkin terjadi jika seorang perempuan, seorang hamba, mampu berlaku ikhlas serta mau melibatkan Allah dalam setiap detik pengabdiannya.

(reshare)

Ingin bekerja dari rumah?
Mungkin ini yang cocok untuk anda: